Di halaman 66 dituliskan satu puisi yang dinyanyikan Dewabrata. Puisi ini adalah semacam ringkasan dari perjalanan rohani Dewabrata.
bait 1 : Kondisi Jiwa dan kerinduannya akan kedamaian abadi
bait 2 : Pengenalan diri dan pengalaman kebebasan batin
bait 3 : Pemahaman baru: kedamaian itu bukan tujuan, tetapi perjalanan itu sendiri adalah kedamaian.
Di batas selalu ada cakrawala
Ini mau menggambarkan kondisi keterbatasan pemahaman manusia. Sejauh mata kita mampu memandang, selalu akan ada batas yang di sebut cakrawala. Kita tidak akan pernah bisa melihat melampaui batas cakrawala.
Di tengah senantiasa ada keraguan
Baris ini diilhami oleh Thomas Aquinas yang mengatakan bahwa keraguan adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Keraguan dan iman adalah dua sisi dari satu mata keping yang sama. Iman justru ada karena keraguan. Kalau segalanya jelas dan gamblang, tidak perlu lagi iman. Di dalam kisah Dewabrata, tokoh Padang Buana menjadi representasi sisi jiwa yang seperti ini. Maka keraguan bukanlah hal yang harus ditakuti, namun justru menjadi kesempatan untuk mengambil keputusan iman untuk percaya.
Rajawali terbang dalam gelap
Mengapa dipilih Rajawali? Rajawali adalah burung yang menyendiri. Ini adalah lambang dari perjalanan manusia mencari jati dirinya. Perjalanan itu tidak bisa dititipkan pada orang lain, atau hanya ikut-ikutan orang lain. Perjalanan itu harus dilakukan sendiri meskipun harus menembus kegelapan.
di antara kabut dan tanah basah
Kalau mendengar kata kabut dan tanah basah, yang langsung muncul di bayangan kita adalah suasana pagi di pegunungan, ketika matahari belum bersinar penuh. Suasana semacam ini selalu membangkitkan keheningan dalam diri. Dalam keheningan itulah kita bertemu dengan diri kita.
Adakah damai abadi di atas sana?
Inilah kerinduan kita semua.
No comments:
Post a Comment