Wednesday, November 10, 2010

Cinta dan Benci

"Cinta dan benci tumbuh dari akar yang sama, hanya bermuara pada buah yang berbeda. Cinta mengundang orang untuk keluar dari dirinya, sedangkan benci melumpuhkan orang dari dalam dirinya karena tidak menerima keterbatasan jiwanya." (hal. 51 -52)

"Dendam di hatimu membuat dirimu tidak manusiawi lagi. Ketidakadilan tidak bisa diperangi dengan kemarahan. Kalau itu yang terjadi, hanya akan tersisa sebuah lubang besar di hati manusia. Seperti sebuah tempayan tak berdasar, betapapun banyaknya air dituangkan, hanya akan lewat begitu saja, dan menyisakan kekeringan yang menyakitkan." (hal 50)

Makna Puisi Utama - bait 3

Di antara kabut dan tanah basah

Rajawali terbang dalam gelap,
tetapi kegelapan tidak selamanya menakutkan,
Apabila tahu bahwa dia terbang,
pulang menuju rumahnya.

Seseorang yang telah merasakan sungguh apa itu arti kehidupan, tidak akan pernah takut lagi menghadapi ketidakpastian, kehilangan atau bahkan kematian. Dia tidak lagi mencari surga, karena dia membawa surga itu di dalam dirinya. Dia hidup semata digerakkan oleh kerinduan untuk kembali bersatu dengan penciptanya.

Tuesday, November 9, 2010

Makna Puisi Utama - bait 2

Dendam dan Cinta
dua sisi dari keping hati yang sama.

Kita diajak untuk menyadari bahwa kita bisa memiliki banyak wajah, bahkan yang sekilas tampak amat berseberangan. "Manusia mengalami keterpecahan dalam dirinya yang tidak mudah dimengerti olehnya. (hal. 94)

Kemarahan dan Pengampunan,
dua wajah dari satu jiwa.

Semua yang kita rasakan dalam hidup ini adalah buah pilihan kita. Kita bisa memilih untuk mewarnai kehidupan dengan kemarahan, atau belajar untuk mengampuni banyak orang dengan mulai dari mengampuni jiwa kita sendiri.

Manakah lebih baik?

TIDAK ADA! Yang benar pertanyaannya adalah: mana yang lebih jujur? Kemarahan bisa menjadi energi positif. Kemarahanku pada para koruptor yang merusak negri ini bisa melahirkan gerakan-gerakan perbaikan. Kemarahanku pada ketidakadilan yang melahirkan kemiskinan bisa berkobar seperti api bara. Tetapi pada saat yang sama aku juga bisa memiliki hati seluas samudra untuk mengampuni mereka.

Semuanya hanyalah mimpi-mimpi jiwa
jiwa bisa memilih kapan untuk terjaga.

Inilah yang dinamakan kebebasan batin, ketika kita bisa melihat realita sesungguhnya dalam hidup kita. Realita itu tidak pernah menipu. Dia tampil apa adanya. Tugas kita adalah untuk belajar melihat. Vipassana : aku melihat.

Sunday, November 7, 2010

Makna Puisi Utama - bait 1 (hal. 66)

Di halaman 66 dituliskan satu puisi yang dinyanyikan Dewabrata. Puisi ini adalah semacam ringkasan dari perjalanan rohani Dewabrata.
bait 1 : Kondisi Jiwa dan kerinduannya akan kedamaian abadi
bait 2 : Pengenalan diri dan pengalaman kebebasan batin
bait 3 : Pemahaman baru: kedamaian itu bukan tujuan, tetapi perjalanan itu sendiri adalah kedamaian.

Di batas selalu ada cakrawala

Ini mau menggambarkan kondisi keterbatasan pemahaman manusia. Sejauh mata kita mampu memandang, selalu akan ada batas yang di sebut cakrawala. Kita tidak akan pernah bisa melihat melampaui batas cakrawala.

Di tengah senantiasa ada keraguan

Baris ini diilhami oleh Thomas Aquinas yang mengatakan bahwa keraguan adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Keraguan dan iman adalah dua sisi dari satu mata keping yang sama. Iman justru ada karena keraguan. Kalau segalanya jelas dan gamblang, tidak perlu lagi iman. Di dalam kisah Dewabrata, tokoh Padang Buana menjadi representasi sisi jiwa yang seperti ini. Maka keraguan bukanlah hal yang harus ditakuti, namun justru menjadi kesempatan untuk mengambil keputusan iman untuk percaya.

Rajawali terbang dalam gelap

Mengapa dipilih Rajawali? Rajawali adalah burung yang menyendiri. Ini adalah lambang dari perjalanan manusia mencari jati dirinya. Perjalanan itu tidak bisa dititipkan pada orang lain, atau hanya ikut-ikutan orang lain. Perjalanan itu harus dilakukan sendiri meskipun harus menembus kegelapan.

di antara kabut dan tanah basah

Kalau mendengar kata kabut dan tanah basah, yang langsung muncul di bayangan kita adalah suasana pagi di pegunungan, ketika matahari belum bersinar penuh. Suasana semacam ini selalu membangkitkan keheningan dalam diri. Dalam keheningan itulah kita bertemu dengan diri kita.

Adakah damai abadi di atas sana?

Inilah kerinduan kita semua.

Thursday, November 4, 2010

Welcome - Peace Be With You

"Mist and Wetland" (Antara Kabut dan Tanah Basah) is my novel about a spiritual journey of a man named Dewabrata, which means "God's Beloved" ...It's a journey belongs to everyone of us.

Indonesian Version: Please continue to Antara Kabut dan Tanah Basah tab above

English Version : Please continue to Mist at the Wetland tab above. Note: the translation is not yet finished.

Other Works: Please continue to Other Works tab

New (coming) novel: Please continue to New Stories tab